Minggu, 04 Januari 2015

Posted by Unknown On 05.05
Kamu selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu, Memaksa ku tuk kembali menyentuh kenangan, Terdampar dalam bayang-bayang yang kau buat secarasengaja, Seakan-akan sosokmu nyata, Menjelma menjadi pahlawan kesiangan yang merusakkebahagiaan, Dalam kenangan kau seret aku perlahan, Menuju masa yang harusnya aku lupakan, Hingga aku kelelahan, Hingga aku sadar bahwa aku sedang dipermainkan, Inikah caramu menyakitiku? Inikah caramu mencabik-cabik perasaan ku? Apa dengan melihat tangisku itu berarti bahagia buat mu? Apa dengan menorehkan luka dihatiku berarti kemenangan bagimu? Siapa aku dimata mu? Hingga begitu sulit engkau lepaskan aku dari jeratanmu, Apakah boneka kecilmu ini dilarang untuk bahagia? Apakah wayang yang sering kau mainkan ini dilarang untukmencari kebebasan? Mengapa kau selalu perlakukan aku seperti bayi-bayi? Kapan kau ajari aku kebebasan? Ajari aku untuk melupakan, Meniadakan segala kecemasan, Meniadakan segala kenangan, Nyatanya derai air mataku hanya disebabkan oleh mu, Ajari aku cara melupakan, Sehingga aku lupa caranya menangis, Sehingga aku lupa caranya meratap, Karna aku selalu kenal air mata, Aku hanya ingin tertawa, Sehingga hati aku mati rasa akan luka...
Posted by Unknown On 05.03
Ku dengar, Kamu sudah menjadi pilihan terakhir mantan kekasihku. ah...? Mengapa mulutmu menganga? Jadi, Kamu terperanjat ketika tahu dia pernah menjadi kekasihku? Sudahlah.... Tutup saja mulutmu dengan telapak tanganmu. Lalu, dengarkan ceritaku. Tentu saja, Aku lebih dulu mengenal dia daripada kamu mengenalnya. Sudah pasti, Aku lebih tahu luar dalam tubuh dan ruhnya. Sebenarnya..... Dia pria baik. Dia manis dan cukup romantis. Tapi.., Entah mengapa ada hal asing dalam dirinya yang sulit kumengerti. Mungkin, Kau bisa lebih mengerti. Mungkin, Kau bisa menerjemahkan keasingan itu menjadi suatu kelaziman. Bagaimana kabarnya sekarang? Masihkah jemarinya hangat ketika menggenggam tanganmu? Masihkah bahunya kuat ketika tubuhmu bersandar disitu? Aku tahu, kalian pasti bahagia, Walaupun mungkin tebakanku salah. Sinar matanya pasti semakin hangat, Ingatanku masih belum mampu melupakan kilatan dimatanya. Otakku belum mampu menghapus rasa hangatnya Ketika dia menggenggam tanganku dulu. Suaranya masih terus menderu. Tolong jangan cemburu atau menangis! Semua terjadi dimasa lalu, dan lihatlah dirimu! Sekarang kamu memiliki dia, dan aku kehilangan dia. Kamu masa depannya dan aku masa lalunya......

Sabtu, 03 Januari 2015

Posted by Unknown On 20.09
SEDIKIT BERBAGI MATERI TENTANG SEJARAH KOMPUTER.
SILAHKAN KLIK DISINI